Pages

Sabtu, 23 Oktober 2010

teen


Love Story

‘Cause you were Romeo
I was a scarlet letter
And my daddy said stay away from Juliet
But you were everything to me
I was begging you please don’t go

And I said
Romeo, take me somewhere we can be alone
I’ll be waiting all  there’s left to do is run
You’ll be the Prince and I’ll be the Princess
It’s a love story, baby, just say yes

Meskipun pagi, aku tetap mengalunkan salah satu lagu kesukaanku ini. Yap, Love Storynya Taylor Swift ini sudah sering aku dengar dari handphoneku. Tapi jujur, meskipun lagu ini sudah 4 minggu aku miliki dan tertulis sebagai nomor satu dalam daftar lagu yang paling sering kuputar, aku tak merasa bosan mendengar lagu ini.
Tak peduli lingkungan, aku tetap mengalunkan lagu ini selama perjalananku dari kamar menuju kamar mandi.
“Kar, brenti deh nyanyinya. Abang pusing tau… Pagi-pagi udah ngedengerin suaramu. Bagus enggak, jelek iye. Malah pronounciationnya ancur lebur lagi gitu,”terdengar keluh kesah dari salah satu pendengar setiaku. Mendengar komentar pendengarku ini, aku menghentikan langkahku sejenak dan menatapnya dengan tak peduli.
“Masalah lo, derita lo. Kalo Abang gak mau dengernya, ya udah, tutup aja gih sana kupingnya pas Kara nyanyi,” jawabku dan melanjutkan langkahku ke kamar mandi. Abang Dava hanya menatapku dengan tatapan jijik.

* * *
Lagu Love Story hanya berhenti sesaat karena “Diva”-nya mau shalat Subuh dulu. Setelah mengucapkan “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”, lagu tersebut kembali terdendang dengan sumbangnya. Lalu Kara mengambil handuk dan menuju kamar mandi lagi. Masih ada abang tersayangnya yang masih berkutat di buku gede dengan tulisan “FISIKA XII” segede gajah pula di sampulnya.
Ih, ngapa lagi musti ditulis gede-gede. Lihat posturnya aja udah bikin ngeri.
Kata Kara dalam hati.
”Bang, kok gak terganggu sih Kara nyanyi?”tanyanya. Tapi, abangnya itu tetap aja fokus dengan bukunya. Kara menyerngitkan alisnya. Dia menatap semua gerakannya.
”Oooohhh.... Pantesan,”teriaknya setelah melepas headset yang terhubung dengan N73-nya abang.
”Iihhhhh... Apaan sih,Kar? Udah deh, jangan ganggu. Abang ada ulangan hari ini”
”Ulangan kok malah dengerin musik?”tanyaku dengan mimik licik. Hehehe...
”Kamu itu gak nyadar. Suara jelek gitu malah nyanyi sembarangan. Semua hafalan yang udah Abang hafalin itu ilang semua tau gak. Udah jangan ganggu. Abang bilangin ke Ibu baru tahu rasa!”
”Bilang aja. Gak takut!”
”Iiibbbuuuuu....!!! Kara nih ganggu!!!”teriak Abang Dava yang bikin telinga aku berdenging. Mungkin ini yang namanya resonansi kali ya. Musti ke THT ntar nih.
”Aduuhh... Apaan sih pagi-pagi udah bikin ribut? Kara, Dava lagi belajar. Jangan kamu ganggu. Mending kamu mandi sana. Udah jam enam. Nanti kamu telat,”kata Ibuku tersayang yang masih mengenakan dasternya yang tiba-tiba muncul dari dapur.
”Weeeekkkk,”ejek Abang. Jurus andalan Abangku ini cuman dua. Kalo gak teriak-teriak ya melet-melet. Kayak cewek aja ya??
”Iya, Bu,”kataku pada akhirnya untuk mengakhiri perang pagiku.

* * *
Okkee...
Dasi? Udah. Baju? Rapi. Pe-er? Udah selesai semua. Sarapan juga udah.
Oke! Bersiap untuk pergi menuju penjara kolesterol!
“Kara pergi dulu ya bu!!! Assalamu’alaikum, Bu!” teriak Kara di pintu rumah.
“Iya. Walaikumsallam…,”terdengar jawaban yang samar-samar dari dapur.
Kara berjalan beberapa meter. Lalu pandangannya menangkap bayangan seseorang yang memang ditunggunya. Bayangan milik seseorang yang sudah mengisi relung hatinya selama 3 bulan ini. Pemilik bayangan itu tersenyum melihat Kara sudah berjalan mendekatinya.
“Hai, Kara…,”sapanya. Sapaan yang dapat membuat Kara kembali mengucap syukur bahwa ia masih memiliki nafas dan dapat bertemu orang ini.
“Hai juga, Raka…,”jawabnya.
Yap. Raka Davidio adalah pacarnya. Yang tidak diketahui oleh siapa-siapa tentu saja. Termasuk oleh kedua orang tua mereka.
“Kok cemberut gitu? Habis berantem nih pasti sama Mas Dava ?”tanyanya lembut. Kara menatap wajah Raka dan kemudian mengangguk.
“Hahaha... Ya sudah, biarin aja deh Mas Dava itu. Orangnya ‘kan emang suka jahil. Masa kamu adik sendiri gak tahu sih?”
“Bukan dia lagi, Raka yang mulai. Aku yang mulai duluan... Hehehehe,”
Raka hanya tertawa tanpa suara. Manis. Pikir Kara.
“Ka, jalan yuk. Udah mau jam 7 nih...,” ajak Kara.
“Hayo...,” jawab Raka dan berjalan duluan. Kara mengikutinya di belakang.
Inilah sebabnya, kenapa ia sangat menyukai lagu Love Story. Raka menyatakan “suka” kepadanya melalui lagu itu . Maka dari itu, Kara selalu menyenandungkan lagu itu  setiap saat. Kapanpun dan dimanapun kapan dia memiliki waktu.
Tapi, dia melihat sesuatu yang aneh dari belakang badan Raka. Mungkin aura. Tapi, kenapa dia merasa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi.
Semoga tidak terjadi apa-apa.
Pintanya dalam hatinya.
Selama perjalanan, seperti biasa mereka saling bercerita. Dari satu cerita ke certita lainnya. Namun, tetap saja perasaan Kara tidak enak. Ia merasa bakal ada yang hilang darinya. Instingnya memang kuat untuk merasakan hal yang seperti itu. Tapi,apa? Jangan katakan Raka yang akan meninggalkan dirinya.
“Ka?”tanyanya saat mereka masih dalam perjalanan.
“Hm?”
“Sampai kapan kita merahasiakan hubungan kita dengan keluarga?”tanya Kara. Raka hanya diam dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Kara menanti jawabannya. Tapi, Raka masih diam dan tenang dengan pikirannya sendiri. Namun, tak beberapa lama kemudian, mereka mendengar suara bel sekolah mereka. Kara hanya menghembuskan nafasnya dan kembali melanjutkan langkahnya.
“Lusa akan kita bongkar semua ini. Aku juga gak mau, Ibumu dan Ibuku gak tahu tentang ini,”ucap Raka tiba-tiba sungguh-sungguh. Tentu saja Kara terkejut dengan jawaban Raka itu.
“Tapi, lusa?”
“Iya. Lusa. Tenang ya...,”ucap Raka tersenyum penuh arti dan menarik tangan Kara dengan lembut menuju sekolah mereka.

* * *
Iya, memang.
Keluarga Kara dan Raka bermasalah di masa lalu. Ayah Kara meninggal secara tiba-tiba. Menurut penyelidikan polisi, Ayah Kara dibunuh seseorang. Dan tuduhan mulai mengarah ke Ayah Raka. Karena, dulu mereka tinggal satu komplek dan satu mitra kerja. Tapi, keluarga menepis semua tuduhan itu. Tentu saja Ibu Kara tak terima dan meminta Ayah raka ditangkap di selidiki kebenarannya. Dan sekarang Ayah Raka ditahan. Keluarga Kara dan Raka juga dekat sejak Kara dan Raka masih TK. Kara sering dititipkan ke rumah Raka. Bahkan dulu Ayah Kara menganggap keluarga Raka itu seperti saudara sendiri. Namun sejak “kejadian” itu, Ibu Kara menolak untuk bertemu dengan keluarga Raka dan memutuskan untuk pindah rumah yang juga tak terlalu jauh.
Sepanjang sekolah, Kara memikirkan keputusan Raka yang mendadak itu. Belum lagi perasaannya yang dari tadi terus gelisah.
Aku bingung jika disuruh memilih mana yang harus aku lepas.
Tuturnya dalam hati.
* * *
Tepat jam 2, bel sekolah berdering. Semua anak bergegas menuju ke rumah masing-masing. Termasuk Kara dan Raka.
“Kar, ada acara sore ini?”tanyanya saat ia menemukan Kara di pagar sekolah bersama teman-temannya.
“Hm, enggak, Ka. Emang kenapa?”tanyanya.
“Pergi, yuk. Jalan. Hari ini tepat 3 bulan kita jadian,”ajaknya. Tumben Raka ngajak pergi. Biasanya enggak. Pikir Kara.
“Boleh. Jam berapa?”
“Jam 4 ya, Kar. Aku tunggu di tempat biasa. Kamu pakai baju yang casual aja ya,”kata Raka dan berlalu dari hadapan Kara.
“Mau kencan ya? Hehehe....,”goda Dian, salah satu teman Kara. Kara hanya tersenyum dan juga berlalu dari mereka.
* * *
Saat jam dinding kamar Kara berbunyi empat kali, ia sudah siap dengan kausnya dan celana panjang.
“Bu, Kara pergi bentar ya,”pamitnya dengan Ibunya.
“Kemana?”tanya Ibunya. Masih bergelut dengan laptop di hadapannya.
“Pergi ke rumah Dian, ada tugas. Ya bu? Assalamu’alaikum,”katanya bohong dan mencium tangan ibunya.
“Iya, Kara. Waalaikumsallam. Hati-hati ya .... Jam 6 kamu harus sudah pulang,”pesan Ibunya. Kara mengangguk dan berjalan menuju tempat yang dijanjikan Raka.
* * *
“Raka, kok ngelamun?”tanya Kara saat ia sampai di sebuah foodcourt.
“Nggak apa-apa, Kar. Kar, kalo misalnya Ibu kita menentang hubungan kita, kamu gimana?” tanya Raka. Tampak sorot kesedihan di wajahnya.
“Aku nggak bisa ngomong. Jujur, aku gak mau kehilangan kamu. Tapi, aku juga nggak mau menentang Ibuku. Juga Ibumu”,Kara meneteskan air matanya.
“Yang jelas, aku nggak mau kita putus cuman karena Ibu kita menentang. Aku mau kita tetap berusaha,”jawab Raka. Inilah yang membuat Kara menyukai Raka. Raka tetap pada pendiriannya. Ia akan mengatakan “iya” jika memang iya. Begitu juga sebaliknya.
Saat makanan sudah diantar dan mereka telah menghabiskannya, Raka mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Kar, ini album. Album kita. Kita akan mengisikannya dengan foto-foto kita. Hanya kita,”kata Raka seraya  menyerahkan album bersampul warna ungu itu. Kara tertawa kecil.
“Kok kayak pengantin sih? Pake album?”tanyanya di sela-sela tertawanya. Raka juga tersenyum.
“Karena, hanya ini yang bisa mengenang kita kalau kita harus terpisah,”jawabnya datar.Kara menatapnya. Nyaris tanpa ekspresi.
* * *
Tepat jam 6, Kara nyampai di rumah diantar oleh taksi. Kali ini, Kara membayar sendiri. Kasihan, dari tadi Raka yang bayar.Karena saat itu hujan dan terpaksa menyewa taksi. Saat Kara membuka pintu.
Pppplllaaakkkk!!!
Tamparan mendarat di pipi kirinya. Tentu saja ini membuat Kara terkejut dan melihat sosok Ibunya yang mengap-mengap.
“Kamu! Kenapa kamu masih berhubungan dengan Anak Pembunuh itu?”tanya Ibunya dengan emosi tinggi.
“Apa maksud Ibu?”tanya Kara sambil meraba pipi kirinya yang terasa panas. Ibunya mengeluarkan wajah tak senang.
“Ini! Apa ini bisa membuktikannya?”Ibunya melempar dua lembar foto. Yang pertama foto Kara dan Raka di lapangan basket dua hari yang lalu. Dan satu lagi foto mereka saat tadi di foodcourt.
“Baik. Semua sudah ketahuan. Memang. Kara pacaran dengan Raka. Apa itu salah?”tanya Kara.
“Jelas itu salah! Kamu berhubungan dengan keluarga pembunuh. Pembunuh ayahmu!!! Apa kamu sudah buta? Kamu putuskan hubungan itu sekarang!”perintah Ibu Kara.
“Kara gak akan mutusi Raka cuman karena ini. Ayah Raka itu gak salah!!! Dan Kara berhak pacaran dengan Raka!”teriak Kara yang terdengar sesak oleh tangis yang tak terbendung lagi dan berlari ke kamarnya di lantai dua.
Ibuku udh tw. Tlg, km k rmh ak skrg. Pke tksi aj.
Ntr ak yng byar.
-kara-
Ia mengirimkan pesan itu ke Raka. Kara hanya bisa menangisi apa yang ada. Apa ini pertanda saat hatinya gelisah tadi pagi. Kenapa secepat ini? Kara terus menangisinya.
Namun, pada saat itu, Ibu dan Ayah Raka dan juga Raka memang mau ke rumah Kara. Penyelidikan polisi sudah selesai. Dan Ayah Raka bukanlah pembunuhnya. Namun, soal mereka pacaran, Raka belum memberitahu mereka. Saat Raka menerima sms itu, Raka segera pergi ke rumah Kara yang berada di dua komplek sebelah.
“Raka! Kamu mau kemana? Hari hujan!”teriak Ayah Raka yang tak dihiraukannya. Raka berlari di tengah hujan lebat dan petir yang menyambar. Terus berlari menuju rumah Kara.
“Ini gak boleh berakhir!”katanya yang hanya bisa didengar olehnya.
* * *
Satu jam sudah berlalu. Namun, Raka juga tak kunjung sampai. Kara makin gelisah. Karena, hujan semakin deras.
Kemana kamu, Raka? Tanyanya dalam hati.
Lalu, sebuah ambulans berlalu di depan rumahnya. Kara tersentak karena deringan suara sirine ambulans tersebut. Sedangkan Ibunya dan Abangnya masih ada di lantai bawah. Ibunya masih marah dan menangis. Lalu, handphone Kara berdering. Telepon dari nomor yang tak ia ketahui.
“Halo? Nona Kara?” tanya orang diseberang. Ramai suasana disana.
“Iya. Saya sendiri. Ini siapa?”tanya Kara. Perasaanya masih gelisah.
“Ini dari rumah sakit. Saya ingin memberitahukan, bahwa, Raka mengalami kecelakaan. Ia mengalami pendarahan yang hebat. Maaf, kami tak dapat menyelamatkannya.”Kalimat itu merupakan setruman listrik 1000 mega volt didirinya. Ia hanya terdiam dan handphonenya terbanting.
“Aaaarrrrrgggghhh!!!!”teriaknya sekencang-kencangnya yang merupakan teriakan kehilangan. Cintanya, mimpinya, harus hilang dalam sekejap. Hanya dalam jangka satu jam.
* * *
Sekarang, keluarga Kara dan Raka sudah ada di rumah sakit. Ibu Kara tidak marah lagi.  Karena, mereka sekaligus menerangkan penyelidikan polisi bahwa bukan Ayah Raka pelakunya. Ibu Kara meminta maaf kepada mereka dan juga Kara. Dan rahasia Kara dan juga Raka sudah terbongkar. Meskipun, Raka sudah tak ada lagi.
“Terlambat!”jawaban Kara di pelukan Ibu Raka saat Ibunya minta maaf. Ibu Raka meminta supaya Kara dibiarkan tenang dulu. Ayah Raka juga cerita, kalau Raka korban tabrak lari. Saat itu, Raka pergi ke suatu tempat tanpa pamit-pamit. Padahal sudah dilarang. Dan hari itu hujan.
“Itu ke rumah Kara, Paman,”kata Kara disela-sela tangisnya. Lalu, saat Raka hendak menyebrang, ia nggak tahu kalau ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Namun, Raka gak tahu karena mobil itu lampunya padam. Juga tak terdengar karena suara hujan.
“Saat itu, Kara melihat ambulans. Tapi, gak tahu itu ambulansnya Raka,”sambung Kara.
“Tante tahu, kamu kehilangan Raka. Tapi ini jalannya Raka, Kar. Hidupnya memang sampai disini. Melalui jalan ini. Saat ia hendak ke rumahmu,”kata Ibu Raka yang membuat Kara semakin mengeraskan suaranya.
“Kalau saat itu Kara gak nyuruh Raka datang, pasti gak kayak gini, kan, Tante? Ini salah Kara! Salah Kara!” katanya seperti sebuah penyesalan.
“Gak, Kara. Semua sudah terjadi. Seribu kali kamu memohon, Raka akan tetap pergi. Pergi meninggalkan kita semua. Hanya saja, caranya lewat dirimu, Kar,”hibur Ibu Raka. Ibu Kara hanya menatap mereka. Dari hati terdalamnya, ia benar-benar meminta maaf kepada semua orang. Termasuk Kara. Menghilangkan cintanya dalam sekejap.
Maafkan Ibu, Nak.
Bisiknya di hatinya.

* * *
Hari ini hari pemakaman Raka. Kara masih terduduk diam di kamar Raka. Ia melihat pigura foto dirinya dan Raka saat perpisahan SD. Juga ada foto Raka sendirian. Kara tersenyum melihat fotonya. Lalu, ia melihat album yang diberikan Raka kemarin. Ternyata ini pertanda dari Yang Maha Kuasa. Karena itu, perasaannya tak tenang. Ia ingat kata-kata Raka saat ia memberikan album itu. Karena, hanya ini yang bisa mengenang kita kalau kita harus terpisah. Perkataan Raka itu benar. Itu juga pertandanya. Sekarang mereka terpisah.
“Kenapa secepat ini, Ka? Kenapa?”tanyanya pada album yang ia peluk itu. Seakan-akan album itu akan berbicara padanya. Namun, nihil. Ia terus menangis. Namun, tak beberapa lama kemudian, ia merasa ada yang menyentuh pundaknya. Ia menoleh ke arah belakang sesaat. Ia melihat sosok Raka!
“Kamu, jangan nangis ya... Aku juga nangis kalau kamu nangis,”kata “Raka” itu. Kara hanya diam dan termangu melihatnya.
“Maafin aku, aku gak bisa nepatin janjiku sendiri. Gak bisa isi album itu dengan foto kita,”sambugnya lagi. Namun Raka tersebut terus menatap Kara. Perlahan, ia menyentuh wajah Kara. Perlahan, mengusap air matanya.
“Saat kamu kesepian,bersedih, ataupun bingung, kamu butuh aku, kamu panggil di sini. Aku selalu ada di sana,”sambungnya lagi dan memegang dadanya sendiri. Lalu ia tersenyum. Saat Kara menggosok matanya, sosok bayang Raka itu sudah menghilang. Kara sadar, berjuta kali dia meminta, Raka tetap pergi. Lalu, ia berdiri dan segera turun ke bawah.
* * *
Setelah pemakaman dan semua orang kembali, ia meminta Ibunya untuk meninggalkannya sebentar. Sendiri bersama tempat peristirahatan Raka yang terakhir. Hatinya sakit. Sakit sekali. Ia memeluk kembali kayu nisan yang bertuliskan “RAKA DAVIDIO . LAHIR 05-09-1994 . WAFAT 18-03-2010” . Kembali ia mengeluarkan tangisnya.
“Raka, aku berdoa. Ada Raka yang kedua yang dititipkanNya untukku. Aku berdoa dia kamu,”katanya di sela-sela tangisnya. Ia menyenandungkan kalimat Love Story. Seperti ia mengulang kalimat Raka saat ia menyatakan “suka”.
Marry me Juliet, you’ll never have to be alone. I love you and that’s  all I really know”meskipun sesak, ia tersenyum juga mengingat lagu itu. Saat itu Kara menyangka Raka bercanda. Sumpah! Suara Raka bener-bener fals! Tapi, akhirnya dia tahu kalau Raka serius saat ia berlutut dan menjulurkan tangan kanannya seperti seorang Pangeran yang menjemput Putrinya. Setelah puas ia mengingat itu, ia hendak berdiri. Ia kembali melihat sosok Raka mengenakan baju putih-putih. Tampan. Raka tersenyum bahkan seperti tertawa kepadanya. Kara membalas senyumannya.
“Raka, kamu dengerkan doaku tadi? Aku janji, aku pasti akan mengunjungi “rumahmu”. Berjanjilah ada buatku. Meski kita terpisah jauh,”kata Kara kepada “Raka”. Raka mengangguk pasti. Lalu, ia melambai dan berbalik dan berjalan meninggalkan Kara sendirian. Saat ia hendak melewati sebuah pohon, ia kembali menatap Kara yang terus melihat kearahnya.
“Selamat tinggal, Kara. Jaga dirimu baik-baik. Jangan bertengkar terus ya sama Mas Dava. Aku sayang sama kamu. Jangan lupa pesanku tadi, ya,”pesannya atau kata-kata terakhirnya. Lalu bayangannya hilang ditelan terik siang itu dan bayangan pohon besar itu. Raka sudah dijemput malaikat yang akan membawanya ke Sana.
“Selamat tinggal juga Raka. Aku juga sayang sama kamu,”jawab Kara menatap nisan Raka. Dan berjalan meninggalkan pemakaman tersebut.
* * *
Sudah sebulan berlalu sejak kepergian Raka untuk selama-lamanya. Album pemberian Raka yang sekarang ada ditangannya, penuh dengan foto proses pemakaman Raka. Dan dua lembar foto yang ia minta dari ibunya saat ibunya tahu, ia pacaran dengan Raka. Setiap minggu, setiap ada kesempatan, setiap hari jadian mereka, Kara datang ke “rumah terakhir” Raka. Ia selalu berbicara dengan pemakaman tersebut dan juga album pemberian Raka saat ia ada masalah atau cerita. Aneh, ia merasa Raka ada di sekitarnya. Dan selalu mendengar ceritanya. Terkadang, sampai Kara tertawa sendirian.
Doanya juga terkabul. Datang murid baru disekolahnya. Namanya Raka juga. Tapi, M. Raka Pratama. Anaknya mirip dengan Raka dan memiliki sifat yang sama persis. Ia juga sering mendekati Kara. Karena, dia bilang, mereka cocok. Raka dan Kara. Hanya dibalik saja. Membuat Kara selalu tertawa melihat tingkahnya.
“Eh, kamu tahu gak, Ka. Raka itu, jahil banget tahu! Dia selalu aja ngejer-ngejer aku kemana aja,”katanya memulai ceritanya bersama album di tangannya. Entah halusinasi atau benar, ia mendengar jawaban Raka.
“Bener? Udah, anggap aja dia fans kamu. Gampang ‘kan? Hahaha,”
“Brarti aku seleb ya?”tanya Kara lagi kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Yang iyanya saleb. Hahaha,”
“Kara! Kamu ngapain ketawa sendiri?”teriak Ibu Kara dari kamarnya di sebelah.
“Gak ada, Bu!”balas teriaknya lagi.
“Ssssttt! Raka dimanapun kamu berada, aku pingin ketemu kamu. Kapan ya kita bisa ketemu?”tanyanya sendiri dan mulai menyenderkan kepalanya di bantalnya. Ada angin yang lembut yang membuat Kara mulai tertidur. Di mimpinya, ia kembali melihat Raka. Ia berlari dan memeluk Raka di sana.
“Akhirrrnnnyyyaaa!!!!”teriak Kara kesenangan.
“Tiap hari...,”jawab Raka tersenyum. Kara melihat Raka juga tertawa.
“Kenapa?”tanya Raka setengah membentak.
“Jangan marah-marah, ah... Gak menakutkan tuhhh...,”goda Kara. Raka tertawa. Saat itu mereka bertemu di sebuah taman yang sunyi. Kara memintanya untuk berjalan-jalan. Dan kembali memulai ceritanya.
Ya, seperti itulah Kara. Ia tahu, kalau Raka akan menepati janjinya. Akan selalu menemuinya di saat ia membutuhkannya. Meski itu hanya mimpi. Tapi, Kara yakin, Raka masih ada dan hidup walau dengan wujud lain. Tetap tinggal di hati dan kenangannya. Hingga suatu saat, Raka kembali datang dengan Raka yang lain. Suatu hari nanti.

* * *





0 komentar:

Posting Komentar

woy!!! kasih gak komen?! kasih gak?!!! Cepetan! Komen atau nyawa (?)