Love Story
‘Cause you were Romeo
I was a scarlet letter
And my daddy said stay
away from Juliet
But you were everything
to me
I was begging you
please don’t go
And I said
Romeo, take me
somewhere we can be alone
I’ll be waiting
all there’s left to do is run
You’ll be the Prince
and I’ll be the Princess
It’s a love story,
baby, just say yes
Meskipun pagi, aku tetap mengalunkan salah
satu lagu kesukaanku ini. Yap, Love Storynya Taylor Swift ini sudah
sering aku dengar dari handphoneku. Tapi jujur, meskipun lagu ini sudah 4
minggu aku miliki dan tertulis sebagai nomor satu dalam daftar lagu yang paling
sering kuputar, aku tak merasa bosan mendengar lagu ini.
Tak peduli lingkungan, aku tetap
mengalunkan lagu ini selama perjalananku dari kamar menuju kamar mandi.
“Kar, brenti deh nyanyinya. Abang pusing
tau… Pagi-pagi udah ngedengerin suaramu. Bagus enggak, jelek iye. Malah pronounciationnya
ancur lebur lagi gitu,”terdengar keluh kesah dari salah satu pendengar setiaku.
Mendengar komentar pendengarku ini, aku menghentikan langkahku sejenak dan
menatapnya dengan tak peduli.
“Masalah lo, derita lo. Kalo Abang gak mau
dengernya, ya udah, tutup aja gih sana kupingnya pas Kara nyanyi,” jawabku dan
melanjutkan langkahku ke kamar mandi. Abang Dava hanya menatapku dengan tatapan
jijik.
* * *
Lagu Love Story hanya berhenti
sesaat karena “Diva”-nya mau shalat Subuh dulu. Setelah mengucapkan
“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”, lagu tersebut kembali terdendang
dengan sumbangnya. Lalu Kara mengambil handuk dan menuju kamar mandi lagi.
Masih ada abang tersayangnya yang masih berkutat di buku gede dengan tulisan
“FISIKA XII” segede gajah pula di sampulnya.
Ih, ngapa lagi musti
ditulis gede-gede. Lihat posturnya aja udah bikin ngeri.
Kata Kara dalam hati.
”Bang, kok gak terganggu sih Kara
nyanyi?”tanyanya. Tapi, abangnya itu tetap aja fokus dengan bukunya. Kara
menyerngitkan alisnya. Dia menatap semua gerakannya.
”Oooohhh.... Pantesan,”teriaknya setelah
melepas headset yang terhubung dengan N73-nya abang.
”Iihhhhh... Apaan sih,Kar? Udah deh,
jangan ganggu. Abang ada ulangan hari ini”
”Ulangan kok malah dengerin musik?”tanyaku
dengan mimik licik. Hehehe...
”Kamu itu gak nyadar. Suara jelek gitu
malah nyanyi sembarangan. Semua hafalan yang udah Abang hafalin itu ilang semua
tau gak. Udah jangan ganggu. Abang bilangin ke Ibu baru tahu rasa!”
”Bilang aja. Gak takut!”
”Iiibbbuuuuu....!!! Kara nih
ganggu!!!”teriak Abang Dava yang bikin telinga aku berdenging. Mungkin ini yang
namanya resonansi kali ya. Musti ke THT ntar nih.
”Aduuhh... Apaan sih pagi-pagi udah bikin
ribut? Kara, Dava lagi belajar. Jangan kamu ganggu. Mending kamu mandi sana.
Udah jam enam. Nanti kamu telat,”kata Ibuku tersayang yang masih mengenakan
dasternya yang tiba-tiba muncul dari dapur.
”Weeeekkkk,”ejek Abang. Jurus andalan
Abangku ini cuman dua. Kalo gak teriak-teriak ya melet-melet. Kayak cewek aja
ya??
”Iya, Bu,”kataku pada akhirnya untuk
mengakhiri perang pagiku.
* * *
Okkee...
Dasi? Udah. Baju? Rapi. Pe-er? Udah
selesai semua. Sarapan juga udah.
Oke! Bersiap untuk pergi menuju penjara
kolesterol!
“Kara pergi dulu ya bu!!!
Assalamu’alaikum, Bu!” teriak Kara di pintu rumah.
“Iya. Walaikumsallam…,”terdengar jawaban
yang samar-samar dari dapur.
Kara berjalan beberapa meter. Lalu
pandangannya menangkap bayangan seseorang yang memang ditunggunya. Bayangan
milik seseorang yang sudah mengisi relung hatinya selama 3 bulan ini. Pemilik
bayangan itu tersenyum melihat Kara sudah berjalan mendekatinya.
“Hai, Kara…,”sapanya. Sapaan yang dapat
membuat Kara kembali mengucap syukur bahwa ia masih memiliki nafas dan dapat
bertemu orang ini.
“Hai juga, Raka…,”jawabnya.
Yap. Raka Davidio adalah pacarnya. Yang
tidak diketahui oleh siapa-siapa tentu saja. Termasuk oleh kedua orang tua
mereka.
“Kok cemberut gitu? Habis berantem nih
pasti sama Mas Dava ?”tanyanya lembut. Kara menatap wajah Raka dan kemudian
mengangguk.
“Hahaha... Ya sudah, biarin aja deh Mas
Dava itu. Orangnya ‘kan emang suka jahil. Masa kamu adik sendiri gak tahu sih?”
“Bukan dia lagi, Raka yang mulai. Aku yang
mulai duluan... Hehehehe,”
Raka hanya tertawa tanpa suara. Manis.
Pikir Kara.
“Ka, jalan yuk. Udah mau jam 7 nih...,”
ajak Kara.
“Hayo...,” jawab Raka dan berjalan duluan.
Kara mengikutinya di belakang.
Inilah sebabnya, kenapa ia sangat menyukai
lagu Love Story. Raka menyatakan “suka” kepadanya melalui lagu itu . Maka dari
itu, Kara selalu menyenandungkan lagu itu
setiap saat. Kapanpun dan dimanapun kapan dia memiliki waktu.
Tapi, dia melihat sesuatu yang aneh dari
belakang badan Raka. Mungkin aura. Tapi, kenapa dia merasa ada sesuatu yang
buruk yang akan terjadi.
Semoga tidak terjadi
apa-apa.
Pintanya dalam hatinya.
Selama perjalanan, seperti biasa mereka
saling bercerita. Dari satu cerita ke certita lainnya. Namun, tetap saja
perasaan Kara tidak enak. Ia merasa bakal ada yang hilang darinya. Instingnya
memang kuat untuk merasakan hal yang seperti itu. Tapi,apa? Jangan katakan Raka
yang akan meninggalkan dirinya.
“Ka?”tanyanya saat mereka masih dalam
perjalanan.
“Hm?”
“Sampai kapan kita merahasiakan hubungan
kita dengan keluarga?”tanya Kara. Raka hanya diam dan memalingkan wajahnya ke
arah lain. Kara menanti jawabannya. Tapi, Raka masih diam dan tenang dengan
pikirannya sendiri. Namun, tak beberapa lama kemudian, mereka mendengar suara
bel sekolah mereka. Kara hanya menghembuskan nafasnya dan kembali melanjutkan
langkahnya.
“Lusa akan kita bongkar semua ini. Aku
juga gak mau, Ibumu dan Ibuku gak tahu tentang ini,”ucap Raka tiba-tiba
sungguh-sungguh. Tentu saja Kara terkejut dengan jawaban Raka itu.
“Tapi, lusa?”
“Iya. Lusa. Tenang ya...,”ucap Raka
tersenyum penuh arti dan menarik tangan Kara dengan lembut menuju sekolah
mereka.
* * *
Iya, memang.
Keluarga Kara dan Raka bermasalah di masa
lalu. Ayah Kara meninggal secara tiba-tiba. Menurut penyelidikan polisi, Ayah
Kara dibunuh seseorang. Dan tuduhan mulai mengarah ke Ayah Raka. Karena, dulu
mereka tinggal satu komplek dan satu mitra kerja. Tapi, keluarga menepis semua
tuduhan itu. Tentu saja Ibu Kara tak terima dan meminta Ayah raka ditangkap di
selidiki kebenarannya. Dan sekarang Ayah Raka ditahan. Keluarga Kara dan Raka
juga dekat sejak Kara dan Raka masih TK. Kara sering dititipkan ke rumah Raka.
Bahkan dulu Ayah Kara menganggap keluarga Raka itu seperti saudara sendiri.
Namun sejak “kejadian” itu, Ibu Kara menolak untuk bertemu dengan keluarga Raka
dan memutuskan untuk pindah rumah yang juga tak terlalu jauh.
Sepanjang sekolah, Kara memikirkan
keputusan Raka yang mendadak itu. Belum lagi perasaannya yang dari tadi terus
gelisah.
Aku bingung jika disuruh
memilih mana yang harus aku lepas.
Tuturnya dalam hati.
* * *
Tepat jam 2, bel sekolah berdering. Semua
anak bergegas menuju ke rumah masing-masing. Termasuk Kara dan Raka.
“Kar, ada acara sore ini?”tanyanya saat ia
menemukan Kara di pagar sekolah bersama teman-temannya.
“Hm, enggak, Ka. Emang kenapa?”tanyanya.
“Pergi, yuk. Jalan. Hari ini tepat 3 bulan
kita jadian,”ajaknya. Tumben Raka ngajak pergi. Biasanya enggak. Pikir Kara.
“Boleh. Jam berapa?”
“Jam 4 ya, Kar. Aku tunggu di tempat
biasa. Kamu pakai baju yang casual aja ya,”kata Raka dan berlalu dari
hadapan Kara.
“Mau kencan ya? Hehehe....,”goda Dian,
salah satu teman Kara. Kara hanya tersenyum dan juga berlalu dari mereka.
* * *
Saat jam dinding kamar Kara berbunyi empat
kali, ia sudah siap dengan kausnya dan celana panjang.
“Bu, Kara pergi bentar ya,”pamitnya dengan
Ibunya.
“Kemana?”tanya Ibunya. Masih bergelut
dengan laptop di hadapannya.
“Pergi ke rumah Dian, ada tugas. Ya bu?
Assalamu’alaikum,”katanya bohong dan mencium tangan ibunya.
“Iya, Kara. Waalaikumsallam. Hati-hati ya
.... Jam 6 kamu harus sudah pulang,”pesan Ibunya. Kara mengangguk dan berjalan
menuju tempat yang dijanjikan Raka.
* * *
“Raka, kok ngelamun?”tanya Kara saat ia
sampai di sebuah foodcourt.
“Nggak apa-apa, Kar. Kar, kalo misalnya
Ibu kita menentang hubungan kita, kamu gimana?” tanya Raka. Tampak sorot
kesedihan di wajahnya.
“Aku nggak bisa ngomong. Jujur, aku gak
mau kehilangan kamu. Tapi, aku juga nggak mau menentang Ibuku. Juga Ibumu”,Kara
meneteskan air matanya.
“Yang jelas, aku nggak mau kita putus
cuman karena Ibu kita menentang. Aku mau kita tetap berusaha,”jawab Raka.
Inilah yang membuat Kara menyukai Raka. Raka tetap pada pendiriannya. Ia akan
mengatakan “iya” jika memang iya. Begitu juga sebaliknya.
Saat makanan sudah diantar dan mereka
telah menghabiskannya, Raka mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Kar, ini album. Album kita. Kita akan
mengisikannya dengan foto-foto kita. Hanya kita,”kata Raka seraya menyerahkan album bersampul warna ungu itu.
Kara tertawa kecil.
“Kok kayak pengantin sih? Pake
album?”tanyanya di sela-sela tertawanya. Raka juga tersenyum.
“Karena, hanya ini yang bisa mengenang
kita kalau kita harus terpisah,”jawabnya datar.Kara menatapnya. Nyaris tanpa
ekspresi.
* * *
Tepat jam 6, Kara nyampai di rumah diantar
oleh taksi. Kali ini, Kara membayar sendiri. Kasihan, dari tadi Raka yang
bayar.Karena saat itu hujan dan terpaksa menyewa taksi. Saat Kara membuka
pintu.
Pppplllaaakkkk!!!
Tamparan mendarat di pipi kirinya. Tentu
saja ini membuat Kara terkejut dan melihat sosok Ibunya yang mengap-mengap.
“Kamu! Kenapa kamu masih berhubungan
dengan Anak Pembunuh itu?”tanya Ibunya dengan emosi tinggi.
“Apa maksud Ibu?”tanya Kara sambil meraba
pipi kirinya yang terasa panas. Ibunya mengeluarkan wajah tak senang.
“Ini! Apa ini bisa membuktikannya?”Ibunya
melempar dua lembar foto. Yang pertama foto Kara dan Raka di lapangan basket
dua hari yang lalu. Dan satu lagi foto mereka saat tadi di foodcourt.
“Baik. Semua sudah ketahuan. Memang. Kara
pacaran dengan Raka. Apa itu salah?”tanya Kara.
“Jelas itu salah! Kamu berhubungan dengan
keluarga pembunuh. Pembunuh ayahmu!!! Apa kamu sudah buta? Kamu putuskan
hubungan itu sekarang!”perintah Ibu Kara.
“Kara gak akan mutusi Raka cuman karena
ini. Ayah Raka itu gak salah!!! Dan Kara berhak pacaran dengan Raka!”teriak
Kara yang terdengar sesak oleh tangis yang tak terbendung lagi dan berlari ke
kamarnya di lantai dua.
Ibuku udh tw. Tlg, km k rmh ak skrg. Pke
tksi aj.
Ntr ak yng byar.
-kara-
Ia mengirimkan pesan itu ke Raka. Kara hanya
bisa menangisi apa yang ada. Apa ini pertanda saat hatinya gelisah tadi pagi.
Kenapa secepat ini? Kara terus menangisinya.
Namun, pada saat itu, Ibu dan Ayah Raka
dan juga Raka memang mau ke rumah Kara. Penyelidikan polisi sudah selesai. Dan
Ayah Raka bukanlah pembunuhnya. Namun, soal mereka pacaran, Raka belum
memberitahu mereka. Saat Raka menerima sms itu, Raka segera pergi ke rumah Kara
yang berada di dua komplek sebelah.
“Raka! Kamu mau kemana? Hari hujan!”teriak
Ayah Raka yang tak dihiraukannya. Raka berlari di tengah hujan lebat dan petir
yang menyambar. Terus berlari menuju rumah Kara.
“Ini gak boleh berakhir!”katanya yang
hanya bisa didengar olehnya.
* * *
Satu jam sudah berlalu. Namun, Raka juga
tak kunjung sampai. Kara makin gelisah. Karena, hujan semakin deras.
Kemana kamu, Raka? Tanyanya
dalam hati.
Lalu, sebuah ambulans berlalu di depan
rumahnya. Kara tersentak karena deringan suara sirine ambulans tersebut.
Sedangkan Ibunya dan Abangnya masih ada di lantai bawah. Ibunya masih marah dan
menangis. Lalu, handphone Kara berdering. Telepon dari nomor yang tak ia
ketahui.
“Halo? Nona Kara?” tanya orang diseberang.
Ramai suasana disana.
“Iya. Saya sendiri. Ini siapa?”tanya Kara.
Perasaanya masih gelisah.
“Ini dari rumah sakit. Saya ingin
memberitahukan, bahwa, Raka mengalami kecelakaan. Ia mengalami pendarahan yang
hebat. Maaf, kami tak dapat menyelamatkannya.”Kalimat itu merupakan setruman
listrik 1000 mega volt didirinya. Ia hanya terdiam dan handphonenya terbanting.
“Aaaarrrrrgggghhh!!!!”teriaknya
sekencang-kencangnya yang merupakan teriakan kehilangan. Cintanya, mimpinya,
harus hilang dalam sekejap. Hanya dalam jangka satu jam.
* * *
Sekarang, keluarga Kara dan Raka sudah ada
di rumah sakit. Ibu Kara tidak marah lagi.
Karena, mereka sekaligus menerangkan penyelidikan polisi bahwa bukan
Ayah Raka pelakunya. Ibu Kara meminta maaf kepada mereka dan juga Kara. Dan
rahasia Kara dan juga Raka sudah terbongkar. Meskipun, Raka sudah tak ada lagi.
“Terlambat!”jawaban Kara di pelukan Ibu
Raka saat Ibunya minta maaf. Ibu Raka meminta supaya Kara dibiarkan tenang
dulu. Ayah Raka juga cerita, kalau Raka korban tabrak lari. Saat itu, Raka
pergi ke suatu tempat tanpa pamit-pamit. Padahal sudah dilarang. Dan hari itu
hujan.
“Itu ke rumah Kara, Paman,”kata Kara disela-sela
tangisnya. Lalu, saat Raka hendak menyebrang, ia nggak tahu kalau ada mobil
yang melaju dengan kecepatan tinggi. Namun, Raka gak tahu karena mobil itu
lampunya padam. Juga tak terdengar karena suara hujan.
“Saat itu, Kara melihat ambulans. Tapi, gak
tahu itu ambulansnya Raka,”sambung Kara.
“Tante tahu, kamu kehilangan Raka. Tapi
ini jalannya Raka, Kar. Hidupnya memang sampai disini. Melalui jalan ini. Saat
ia hendak ke rumahmu,”kata Ibu Raka yang membuat Kara semakin mengeraskan
suaranya.
“Kalau saat itu Kara gak nyuruh Raka
datang, pasti gak kayak gini, kan, Tante? Ini salah Kara! Salah Kara!” katanya
seperti sebuah penyesalan.
“Gak, Kara. Semua sudah terjadi. Seribu
kali kamu memohon, Raka akan tetap pergi. Pergi meninggalkan kita semua. Hanya
saja, caranya lewat dirimu, Kar,”hibur Ibu Raka. Ibu Kara hanya menatap mereka.
Dari hati terdalamnya, ia benar-benar meminta maaf kepada semua orang. Termasuk
Kara. Menghilangkan cintanya dalam sekejap.
Maafkan Ibu, Nak.
Bisiknya di hatinya.
* * *
Hari ini hari pemakaman Raka. Kara masih
terduduk diam di kamar Raka. Ia melihat pigura foto dirinya dan Raka saat
perpisahan SD. Juga ada foto Raka sendirian. Kara tersenyum melihat fotonya.
Lalu, ia melihat album yang diberikan Raka kemarin. Ternyata ini pertanda dari
Yang Maha Kuasa. Karena itu, perasaannya tak tenang. Ia ingat kata-kata Raka
saat ia memberikan album itu. Karena, hanya ini yang bisa mengenang kita
kalau kita harus terpisah. Perkataan Raka itu benar. Itu juga pertandanya.
Sekarang mereka terpisah.
“Kenapa secepat ini, Ka? Kenapa?”tanyanya
pada album yang ia peluk itu. Seakan-akan album itu akan berbicara padanya.
Namun, nihil. Ia terus menangis. Namun, tak beberapa lama kemudian, ia merasa
ada yang menyentuh pundaknya. Ia menoleh ke arah belakang sesaat. Ia melihat
sosok Raka!
“Kamu, jangan nangis
ya... Aku juga nangis kalau kamu nangis,”kata “Raka” itu. Kara
hanya diam dan termangu melihatnya.
“Maafin aku, aku gak
bisa nepatin janjiku sendiri. Gak bisa isi album itu dengan foto kita,”sambugnya lagi.
Namun Raka tersebut terus menatap Kara. Perlahan, ia menyentuh wajah Kara.
Perlahan, mengusap air matanya.
“Saat kamu
kesepian,bersedih, ataupun bingung, kamu butuh aku, kamu panggil di sini. Aku
selalu ada di sana,”sambungnya lagi dan memegang dadanya sendiri. Lalu ia
tersenyum. Saat Kara menggosok matanya, sosok bayang Raka itu sudah menghilang.
Kara sadar, berjuta kali dia meminta, Raka tetap pergi. Lalu, ia berdiri dan
segera turun ke bawah.
* * *
Setelah pemakaman dan semua orang kembali,
ia meminta Ibunya untuk meninggalkannya sebentar. Sendiri bersama tempat
peristirahatan Raka yang terakhir. Hatinya sakit. Sakit sekali. Ia memeluk
kembali kayu nisan yang bertuliskan “RAKA DAVIDIO . LAHIR 05-09-1994 . WAFAT
18-03-2010” . Kembali ia mengeluarkan tangisnya.
“Raka, aku berdoa. Ada Raka yang kedua
yang dititipkanNya untukku. Aku berdoa dia kamu,”katanya di sela-sela
tangisnya. Ia menyenandungkan kalimat Love Story. Seperti ia mengulang kalimat
Raka saat ia menyatakan “suka”.
“Marry me Juliet, you’ll never have to
be alone. I love you and that’s all I
really know”meskipun sesak, ia tersenyum juga mengingat lagu itu. Saat itu
Kara menyangka Raka bercanda. Sumpah! Suara Raka bener-bener fals! Tapi,
akhirnya dia tahu kalau Raka serius saat ia berlutut dan menjulurkan tangan
kanannya seperti seorang Pangeran yang menjemput Putrinya. Setelah puas ia
mengingat itu, ia hendak berdiri. Ia kembali melihat sosok Raka mengenakan baju
putih-putih. Tampan. Raka tersenyum bahkan seperti tertawa kepadanya. Kara
membalas senyumannya.
“Raka, kamu dengerkan doaku tadi? Aku
janji, aku pasti akan mengunjungi “rumahmu”. Berjanjilah ada buatku. Meski kita
terpisah jauh,”kata Kara kepada “Raka”. Raka mengangguk pasti. Lalu, ia
melambai dan berbalik dan berjalan meninggalkan Kara sendirian. Saat ia hendak
melewati sebuah pohon, ia kembali menatap Kara yang terus melihat kearahnya.
“Selamat tinggal, Kara.
Jaga dirimu baik-baik. Jangan bertengkar terus ya sama Mas Dava. Aku sayang
sama kamu. Jangan lupa pesanku tadi, ya,”pesannya atau kata-kata
terakhirnya. Lalu bayangannya hilang ditelan terik siang itu dan bayangan pohon
besar itu. Raka sudah dijemput malaikat yang akan membawanya ke Sana.
“Selamat tinggal juga Raka. Aku juga
sayang sama kamu,”jawab Kara menatap nisan Raka. Dan berjalan meninggalkan
pemakaman tersebut.
* * *
Sudah sebulan berlalu sejak kepergian Raka
untuk selama-lamanya. Album pemberian Raka yang sekarang ada ditangannya, penuh
dengan foto proses pemakaman Raka. Dan dua lembar foto yang ia minta dari
ibunya saat ibunya tahu, ia pacaran dengan Raka. Setiap minggu, setiap ada
kesempatan, setiap hari jadian mereka, Kara datang ke “rumah terakhir” Raka. Ia
selalu berbicara dengan pemakaman tersebut dan juga album pemberian Raka saat
ia ada masalah atau cerita. Aneh, ia merasa Raka ada di sekitarnya. Dan selalu
mendengar ceritanya. Terkadang, sampai Kara tertawa sendirian.
Doanya juga terkabul. Datang murid baru
disekolahnya. Namanya Raka juga. Tapi, M. Raka Pratama. Anaknya mirip dengan
Raka dan memiliki sifat yang sama persis. Ia juga sering mendekati Kara.
Karena, dia bilang, mereka cocok. Raka dan Kara. Hanya dibalik saja. Membuat
Kara selalu tertawa melihat tingkahnya.
“Eh, kamu tahu gak, Ka. Raka itu, jahil
banget tahu! Dia selalu aja ngejer-ngejer aku kemana aja,”katanya memulai
ceritanya bersama album di tangannya. Entah halusinasi atau benar, ia mendengar
jawaban Raka.
“Bener? Udah, anggap
aja dia fans kamu. Gampang ‘kan? Hahaha,”
“Brarti aku seleb ya?”tanya Kara lagi
kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Yang iyanya saleb.
Hahaha,”
“Kara! Kamu ngapain ketawa sendiri?”teriak
Ibu Kara dari kamarnya di sebelah.
“Gak ada, Bu!”balas teriaknya lagi.
“Ssssttt! Raka dimanapun kamu berada, aku
pingin ketemu kamu. Kapan ya kita bisa ketemu?”tanyanya sendiri dan mulai
menyenderkan kepalanya di bantalnya. Ada angin yang lembut yang membuat Kara
mulai tertidur. Di mimpinya, ia kembali melihat Raka. Ia berlari dan memeluk
Raka di sana.
“Akhirrrnnnyyyaaa!!!!”teriak Kara
kesenangan.
“Tiap hari...,”jawab Raka tersenyum. Kara
melihat Raka juga tertawa.
“Kenapa?”tanya Raka setengah membentak.
“Jangan marah-marah, ah... Gak menakutkan
tuhhh...,”goda Kara. Raka tertawa. Saat itu mereka bertemu di sebuah taman yang
sunyi. Kara memintanya untuk berjalan-jalan. Dan kembali memulai ceritanya.
Ya, seperti itulah Kara. Ia tahu, kalau
Raka akan menepati janjinya. Akan selalu menemuinya di saat ia membutuhkannya.
Meski itu hanya mimpi. Tapi, Kara yakin, Raka masih ada dan hidup walau dengan
wujud lain. Tetap tinggal di hati dan kenangannya. Hingga suatu saat, Raka
kembali datang dengan Raka yang lain. Suatu hari nanti.
* * *

0 komentar:
Posting Komentar
woy!!! kasih gak komen?! kasih gak?!!! Cepetan! Komen atau nyawa (?)