When
I Hate My Life
Aku masih terus berpikir. Menatap
teman-temanku dari sudut pandangan yang sama di kelas. Aku juga selalu
berpikir, kenapa Tuhan selalu menciptakan kami berbeda – beda. Kenapa gak sama
aja gitu? Aku pernah bertanya tentang itu pada Mama. Dan Mama menjawab,”Kalo
semuanya sama, gak ada yang bisa bedain antara kamu juga Mama.” Benar apa kata
Mama.
Aku juga selalu berpikir, kenapa aku gak diciptakan memiliki wajah yang
cantik atau badan yang tinggi semampai mencapai 170 cm seperti Amy ? Amy sudah
menjadi primadona di kelasku. Bahkan “area”-nya juga sudah mulai meluas. Atau,
aku memiliki otak pintar, eh, cukup sepertiganya dari otak Randy atau Fani.
Mereka memiliki otak sejenius Thomas Alfa Edison atau mungkin mereka cucu
kandung dari Albert Einstein. Atau mungkin, saat kami masih dalam kandungan,
ada acara pembagian otak oleh Yang Maha Kuasa. Dan juga pemilihan cara hidup.
Mungkin, orangtua mereka datang. Jadi, mereka memilih otak “bekas” dari Thomas
Alfa Edison dan juga Pascal untuk anak-anak mereka. Dan, saat pemilihan cara
hidup, orangtua mereka memilih “EASY”. Mungkin, orangtuaku gak datang pada saat
acara itu. Sehingga, aku gak kebagian otak yang seperti mereka. Hal itu membuat
mereka menyandang “Siswa Berprestasi” dan juga “Juara Umum Fisika Tingkat
Nasional”. Jujur, aku benar-benar iri dengan mereka. Aira juga. Dia pacaran
dengan Radit. Cowok anggota basket yang menurut teman-temanku benar-benar
cakep.
Masih ada lagi, Selin. Seperti namanya yang mirip dengan penyanyi Celine
Dion, Selin memiliki suara yang bagus. Meski dia tidak menonjol dengan wajah
atau kapasitas otaknya, dia mampu menonjolkan dirinya melalui suara emasnya.
Atau mungkin, Fiolin. Pemain biola andalan sekolahku ini, bukan rahasia umum
lagi kalo dia sering gonta ganti pacar. Karena wajahnya cantik, gak kalah di
bidang akademik, dan pintar di bidang musik khususnya biola. Juga seperti
Sandra. Dia adalah model dan seorang Pragawati! Dan masih ada sederet nama lagi
yang memikirkan betapa aku ingin masuk ke perut Mama dan dilahirkan kembali
dalam bentuk yang berbeda dan setidaknya lebih baik daripada “Regina Tarania”
yang sekarang.
“Sudahlah, Tara. Hentikan mimpi tak nyatamu itu,”kataku pada diri sendiri.
Aku masih menatap aktivitas kelasku tanpa aku.
“Lama sekali bel istirahat selesai. Aku ingin cepat-cepat pulang,”kataku
lagi yang pastinya tidak ada yang mendengarnya. Atau mungkin, tak ada yang mau
mendengarnya.
“Hei, teman-teman! Guru-guru ada rapat! Jadi, kita bisa pulang
sekarang!”terdengar teriakan Edo, ketua kelasku diambang pintu. Teriakannya
disambut “meriah” dari teman-temanku.Tak sampai 10 menit, kelasku sudah seperti
Hutan Jati. Hening. Mereka pulang ke rumah mereka masing-masing untuk berbagi
sejuta cerita dengan ibu mereka. Tapi, tidak padaku.
* * *
Iya, inilah aku.
Namaku Regina Tarania. Aku kelas sepuluh siswa SMA Bafala. Jika orang-orang
mendengar namaku, mereka pasti mereka-reka bahwa wajahku secantik Selena Gomez.
Atau, memiliki tubuh indah seperti Beyonce. Tak dapat dipungkiri, aku memiliki
keturunan Jerman di kakek Papa. Tapi, saat orang menemukan orang yang bernama
Regina Tarania kelas sepuluh siswa SMA Bafala, mereka pasti mengecek ulang
alamat rumah atau sekolahku. Atau, mereka segera ke dokter mata untuk mengecek
mata mereka. Karena apa, yang mereka lihat adalah 100% SALAH!!! NIHIL!!!
Karena,yang ada si Tara buruk rupa atau bule depok. Aku memiliki tubuh kecil
setinggi 160 cm, berkulit sawo matang, dan tidak menonjol di sekolah. Jika
mereka bertanya pada salah satu temanku, mereka harus bertanya dari kelas ke
kelas untuk menemukan aku. Beda dengan adikku.
Reneta Divania.
Kelas delapan siswa SMP Airlangga. Adikku ini beda 180° dengan diriku. Neta memiliki paras yang
cantik, tinggi yang hampir sama denganku, prestasi yang bagus, dan juga banyak
hal yang membuat para saudaraku memujinya. Jika ada acara keluarga mereka
bertemu keluargaku, mereka pasti akan menanyakan perkembangan sekolah dan
prestasi pada Neta dan mengajaknya untuk berbincang-bincang pada anak-anak
mereka. Mungkin, mereka memiliki prinsip, jika Neta menyentuh anak mereka,
bagian yang baik pada Neta akan “mengalir” pada anak mereka.
Jika mereka bertemu aku, mereka hanya menanyakan kabar dan meninggalkan aku
begitu saja. Dan ini membuat aku benar-benar terluka dan ingin berteriak
sekencang-kencangnya atas intimidasi terhadapku yang mungkin mereka tak
mengatakannya seperti itu. Coba kalian bayangkan. Pada Matematika, tara, bruto,
dan netto ada pada istilah Aritmetika Sosial. Sama sepertiku. Tara disana
diartikan sebagai berat kotor. Sama sepertiku. Aku hanya mendapatkan yang
buruk-buruk saja. Sedangkan netto, adalah berat bersih. Hanya beda satu huruf
akhir yaitu “O” dan “A” dan mengurangi huruf “T”pada katanya menjadi Neta. Maka
dari itu, Neta selalu mendapatkan yang baik-baik. Jika aku memiliki saudara
yang memiliki nama bruto, dia pasti juga akan ikut beruntung seperti Neta.
Karena, bruto masih memiliki unsur kebaikan. Membuatku, ingin mengubur Neta
supaya dia tak hadir di kehidupanku yang sudah malang tanpanya.
* * *
Sore ini, aku mengerjakan tugas Matematika di kamar. Sudah dua jam. Baru 8
soal dari 25 soal yang bisa kukerjakan. Aku menyenderkan tubuhku pada sandaran
kursi dan menutup wajahku.
“Kenapa sulit amat soal ini?”tanyaku. Lalu, terdengar ketukan pintu.
Pasti makhluk itu.
Pikirku.
Dan, tak beberapa lama kemudian, seseorang masuk. Benar saja. Itu Neta, si
Makhluk yang tak kuharapkan kehadirannya.Terkadang, aku berpikir, betapa
jahatnya aku sebagai kakak yang tak mengharapkan adiknya ada. Padahal,
sebenarnya, Neta tak pernah menyombongkan “kelebihannya”.
“Hai, Kak. Tadi kami makan siang Kakak gak ikutan. Mama bilang Kakak buat
tugas. Maka dari itu, aku kesini bawain Kak Tara makanan,”katanya. Benar saja.
Aku melihat ada nampan yang mengalasi sepiring nasi dan tahu goreng beserta
tumisan kangkung dan segelas air putih. Aku hanya tersenyum. Neta berjalan dan
menaruhnya di sisi kanan meja belajarku. Lalu, ia melihat pekerjaanku.
“Sudah dua jam dan baru delapan soal yang Kakak kerjain?”tanya Neta.
Sepertinya dia shock.
“Iya. Soalnya susah sih, Net. Kakak pusing ngerjainnya,”kataku bangkit dari
kursi dan membawa makananku menuju balkon di kamarku. Ini tempat “medtasi”-ku
saat aku memang butuh ketenangan. Kulihat, Neta memeriksa buku soalku.
Aku memulai makan siangku.
“Ih, Kakak. Ini soalnya kelewat mudah tahu!”kata Neta yang membuatku ingin
memuntahkan isi mulutku. Aku berjalan mendekatinya.
“Sini, aku ajarin,”kata Neta dan mempersilahkan aku duduk di bangkuku.
“Ini pake rumus ini... Lalu, mulai dihitung. Setelah dapat ini, baru pake
rumus ini,”kata Neta mencoba membantuku. Aku tahu, Neta baik. Dia ingin membuat
Kakaknya ini bisa. Seperti dia. Tapi, jika ia membantuku apalagi dibidang
pelajaran, aku benar-benar tersinggung. Pelajaran kelas sepuluh mampu
dikerjakan anak kelas delapan. Membuatku memaki diriku sendiri. Aku begitu
bodoh.
“Wala! Selesai ‘kan?”ucap Neta.
Benar saja, soal yang bagiku susah setengah mati mampu dikerjakan dengan mudah
oleh Neta. Aku benar-benar terperana.
“Kamu bisa?”kataku tanpa sadar.
“Hehehehe... Bisa dong. Neta gitu loh!”kata Neta
kesenangan. Glek! Itu kata sensitif buatku. Kalimat Neta itu menunjukkan kalau
dia benar-benar hebat. Dalam sepersekian detik, aku langsung membencinya.
“Dek, kamu bisa keluar dulu?”tanyau menundukkan
kepala tanpa melihatnya sedikitpun. Neta yang kesenangan menghentikan
ekspresinya.
“Eh? Kakak kenapa? Kakak tersinggung dengan
kalimatku?”tanyanya. Jawaban pertanyaannya, aku jawab dengan gerakku yang
berdieri dari dudukku dan mendorongnya pelan keluar kamarku. Masih tanpa
melihatnya.
“Eh, Kakak kenapa?”tanyanya seperti protes.
Setelah aku yaki dia sudah di luar area “kekuasaan”-ku, aku kembali tidak
menjawabnya dengan kata-kata. Kembali dengan tindakan. Yaitu, menutup pintu
dengan segera. Namun, Neta masih berusaha menahan pintu itu. Namun, dengan
sekuat tenaga, aku menutupnya sehingga menimbulkan suara yang keras seperti
bantingan pintu.
“Kakak! Kakak!”teriak Neta diluar sambil
mengedor-ngedor pintu dengan kasar. Aku masih tidak menjawab. Aku mengunci
pintu kamarku. Seketika, teriakan dan suara ketukan pintu itu berhenti. Aku
segera menutup pintu balkon dan menutup tirai jendela sehingga kamarku menjadi
gelap gulita. Menyetel lagu Beat-box dengan keras tanpa memperdulikan makan
siangku yang dibawa Neta yang masih tersisa di teras balkon. Perutku perih. Mungkin,
maagku kambuh. Tapi, itu tak seberapa sakit dibandingkan hatiku. Biarkan,
makanan siang itu menjadi rejeki tersendiri untuk hewan yang menyukai makananku
di luar sana. Aku menhempas tubuhku dan menutup wajahku dengan bantal dan
menangis sebisanya.
“Aku benci kehidupanku!!!”teriakku tanpa
diketahui siapapun yang berwujud.
* * *
Ternyata aku terlelap.
Saat aku bangun, aku lihat cahaya yang menembus
tiraiku remang-remang. Berarti, sudah sore. Pikirku.
Aku bangkit dari tempat tidurku. Meraih
handphone yang tergeletak di meja belajarku. Jam digitalnya menuliskan 05:58
p.m. Aku segera menghidupkan lampu yang menerangi balkon.Aku keluar dan duduk
di balkon sebentar. Makanan yang tadi masih ada. Seperti sebelum aku
meninggalkannya. Kemudian, aku buka pintu kamar dan menuju lantai bawah untuk
mandi.
* * *
Setelah mandi, aku segera kembali ke kamarku.
Aku berjalan melewati ruang makan. Dapat kulihat, ada Papa, Mama, dan Neta. Aku
terus saja lewat tanpa melihat mereka seakan-akan aku tak menyadari kehadiran
mereka.
“Tara, kamu gak makan?”aku mendengar pertanyaan
Papa. Yang lain masih diam.
“Gak lapar,”jawabku singkat dan segera menuju
tangga dan berjalan menuju kamarku.
“Tadi, aku lihat Kakak gak ngabisin makanannya,
Pa. Aku yakin, di sekolah Kakak gak makan. Sedangkan tadi pagi Kakak hanya
makan roti dua keping. Berarti, sudah 12 jam dia gak makan,”ucap Neta kepada
Papa.
“Biarkan saja. Itu maunya dia,”jawab Papa dan
segera makan apa yang ada dihadapannya. Mereka tidak tahu, bahwa aku masih di
lantai atas dapat mendengar percakapan mereka. Aku menghela nafas.
“Bahkan, Papaku saja tidak mengharapkan aku.
Kenapa aku tidak dilenyapkan saja sekalian?”tanyaku pada diri sendiri dan masuk
ke kamar. Tak lupa menguncinya.
* * *
Sekitar 30 menit kemudian, aku melihat sebuah sedan
hitam berhenti di depan pagar rumahku dari jendela yang ada di depanku. Aku
melihat Papa menyambut orang yang keluar dari mobil itu. Pasti itu Paman
Herman, Bibi, dan Davi. Mereka adalah tetangga di rumahku yang lama.
“Ah, biarkan saja. Toh mereka juga gak
menyadari keberdaanku,”kataku kemudian kembali fokus ke buku yang ada di
tanganku. Namun,tak beberapa lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kamarku.
Au mendengus kesal dan berjalan menuju pintu untuk membukanya. Kulihat, ada
Neta bersama Davi dibelakangnya.
“Hai, Tara,”sapa Davi padaku. Aku tersenyum.
“Kak, ada Paman Herman dan Bibi di bawah. Ayo,
turun,”ajak Neta dengan menarik tanganku. Aku mendegus kesal.
Saat sampai di ruang keluarga, aku melihat Papa
dan Mama yang sedang ngobrol-ngobrol dengan Paman dan Bibi. Melihat kedatangan
kami, mereka semua berdiri. Bergantian dengan Neta, kami menyalami mereka.
“Hai, ini Tara ya. Apa kabarnya?”sapa Bibi saat
aku menyalaminya.
“Baik, Bi. Bibi sendiri?”tanyaku pura-pura
senang.
“Baik juga, Sayang...,”jawab Bibi lalu menyalami
Neta.
“Ini Neta ya? Wah, cantik sekali kamu... Apa
kabar kamu?”tanya Bibi.
“Baik juga, Bi...,”jawab Neta tersenyum.Manis.
“Gimana dengan sekolahmu? Bibi dengar, kamu
gabung dengan tim OSN ya?”tanya Paman.
“Iya, Paman. Kok Paman tahu?”tanya Neta.
“Kamu tahu Dinda, ‘kan? Dia itu tetangga kami.
Dia sering cerita ke kami kalau kamu itu benar-benar berprestasi di sekolah.
Kami sebagai orang yang pernah dekat dengan keluargamu, ikut bangga
mendengarnya,”jawab Paman dan mengajak Neta duduk di sampingnya. Aku melihat
mereka semua. Mereka membicarakan tentang Neta. Neta, Neta, dan Neta saja.Benar
‘kan apa kataku? Mereka hanya peduli dengan Neta! Marah aku melihat mereka.
Lalu, aku berjalan menuju pintu rumah dan keluar rumah.
“Kenapa aku gak lenyap aja sekalian?”tanyaku
pada diri sendiri dan pergi setengah berlari. Kemana saja! Tersesat, malah aku
senang. Sepertinya mereka baru menyadari kepergianku saat aku membanting pintu
pagar sehingga anjing tetangga menggonggong tidak jelas. Karena, aku mendengar
teriakan mereka dan melihat Davi berjalan mengejarku. Namun, aku mempercepat
langkahku dan mereka kehilangan jejakku karena gelapnya malam.
* * *
Aku berjalan gak karu-karuan sampai aku
menemukan sebuah ladang sawah. Yang dulu sering menjadi tempat kunjungan saat
aku masih kecil dan tanpa NETA! Aku berjalan di tepi-tepi sawah dan menemukan
sebuah saung yang dulu tempat peristirahatan kami. Aku duduk di teras saung
dulu. Memeriksa sela-sela atap. Benar saja, aku menemukan beberapa lilin dan
menemukan korek api. Aku menyalakannya. Biarlah jika nanti terbakar. Malah
bagus. Aku menunduk dan memeluk lutut kakiku. Memejamkan mata sesaat.
Benar-benar lelah badanku. Namun, aku mendengar teriakan seseorang.
“Taraa..!! Tara...!!”seperti suara...
“Davi??!!”kataku dan berdiri untuk
memastikannya. Benar. Itu Davi.
“Ngapain kamu kesini?”tanyaku padanya saat ia
ada di hadapanku.
“Justru aku yang bertanya, ngapain kamu disini?
Malam-malam gini?”tanyanya lagi. Aku berbalik badan dan tersenyum sinis.
“Apa peduli kalian denganku? Mati pun kalian tak
menyadarinya,”kataku. Plllakkk! Davi menampar pipi kananku. Aku terdiam saat kemudian
ia memelukku dan aku masih mengusap pipiku.
“Maaf. Tapi, kamu salah Tara. Kami peduli
padamu. Kamu tak menyadarinya. Ayo, pulang. Mamamu dan Neta menangis. Papamu
dan Papaku mencarimu,”kata Davi. Aku mengeluarkan air mata.
“Tolong pergi, Dav. Aku pingin sendiri
dulu,”kataku melepas pelukannya dan mendorongnya perlahan. Davi berjalan keluar
saungku.
“Tolong, pulang ke rumah,”katanya.
“Aku gak janji,”kataku dan kembali masuk ke
saung tersebut. Aku melihat Davi pergi meninggalkan aku. Aku lelah. Aku ingin
tidur.
* * *
Dalam tidur, aku bertemu seorang putri cantik.
Mungkin, Dewi Fortuna. Aku berjalan menghampirinya.
“Apa yang kau inginkan Tara?”tanyanya. Aku
melihat ke arah belakang. Orang asing ini bicara denganku atau siapa? Setelah
aku melihat dan tidak ada siapa-siapa, aku kembali menatapnya.
“Iya, kau,”katanya
Aku diam sejenak. Berpikir.
“Aku ingin cantik, pintar, dan menonjol di
sekolah,”kataku. Dan... Wala! Aku tidak merasakan apa-apa.
“Pergilah kau kesana...,”katanya menunjuk sebuah
pintu. Disana terdapat sebuah keramaian yang tak asing untukku. Aku berjalan ke
arah yang ditunjuknya. Saat aku melihat kembali, “orang” itu hilang. Orang yang
peduli denganku. Bertanya apa mauku. Saat aku mulai melangkah, benar. Itu
sekolahku. Ada Amy, Randy, Fani, Fiolin, dan yang lain. Saat aku berjalan
melewati belakang mereka, mereka menoleh dan tersenyum. Aku sedikit terkejut
dengan reaksi mereka.
“Tara..!!! Ajarin aku MTK dong...,”teriak Fiolin
dan berlari ke arahku. Aku shock berat. Aku gak bisa
MTK! Aku lari. Tapi, dia bersama beberapa teman mengejarku.
“Tara..!! Kamu kok lari? Biasanya enggak! Kamu
‘kan pintar... Kamu ranking satu!”teriak Fiolin lagi masih mengejarku. Deg!
Ranking 1?
Aku berhenti lari mendadak. Tak urung juga,
mereka menabrak punggungku satu per satu.
“Remku gak pakem nih... Kenapa brenti
mendadak?”gerutu salah seorang dari mereka.
“Ranking satu?”tanyaku pada mereka. Mereka
mengangguk bersamaan. Aku mencoba soal mereka. Benar. Aku bisa mengerjakannya...
Aku senang!
“Aku bisa?”tanyaku lagi.
“Kamu ini kenapa sih? Kamu ‘kan tiap hari
mengajari kami...,”ucap Rara, salah seorang dari mereka.
* * *
Saat aku berjalan menuju gerbang sekolah, aku bertemu
Radit dan memeluk pundakku.
“Ih, apa-apaan sih?”kataku berusaha melepaskan
pelukannya.
“Kamu kenapa sih,Hun? Kamu kok kayak ilfeel gitu ama pacar
sendiri?”katanya. Gila! Ini aneh! Aku pacaran dengan Radit? Aku yang
biasa-biasa ini? Amy dan Fiolin aja gak bisa ngedapetinnya. Aku masih bingung.
Ketika ia membuka pintu mobil Land Cruissernya dan mengantarku hingga ke rumah.
“Hunny, jangan lupa mam and
mandi
ya... Telepon aku nanti. Bye Darling...,”katanya dan pergi
meninggalkanku yang masih terheran. Aku melihat rumahku. Nothing
is change like usual. Ketika aku membuka pintu rumah, oupss... It
isn’t like usual. Banyak orang yang kukenal sebagai penyari bakat
dan produser film!!!!
“Tara... Ini ada produser film minta kamu jadi
pemeran utama,”kata Mama saat menymbut kedatanganku.
“Kak Tara, Kakak diundang nih jadi model catwalk,”ucap Neta
saat melihatku sudah ada di rumah. Aku terkejut. Aku melangkah mundur. I
can’t believe with all of it. It’s amazing! It’s a miracle! Unbelieveable! Aku berlari
menuju tangga dan naik ke kamarku. Aku melihat parasku di cermin. Dan benar
saja. Tinggiku bertambah dan kulitku putih bersih. Rambutku panjang rapi.
Seperti... Amy!!! Dan aku mengingat soal tadi, bisa mengerjakan soal MTK yang
biasanya tidak bisa kukerjakan dan rangking satu. Seperti... Randy dan Fany!
Aku pacaran dengan Radit seperti ... Aira! Juga didatangi para produser film
seperti Sandra! My God... All of my dreams come true. Aku
benar-benar berharap hari ini tak akan berakhir.
* * *
Aku memulai hariku lagi. Just
like yesterday. Membantu teman-teman belajar, diantar jemput Radit, dan dikejar para
produser film.Dan terus seperti itu. Berulang-ulang. Besok, lusa, dan lusa lagi
sama. Benar-benar membuatku bosan! Aku kesal. Aku ingin duniaku lagi... Aku
ingin kembali ke kesendirianku. Ini benar-benar beda dengan hidupku. Aku gak
bisa nerima! Aku hanya bisa menangis...
“Hey, jangan nangis...,”kata seseorang. Aku
menajamkan pandanganku. Orang itu! Yang menanyakan keinginanku.
“Mbak.. Tante. Teteh. Tolong, aku ingin duniaku...,”kataku
memeluk kakinya di sela-sela tangisku. Ia berlutut dan menegakkan kepalaku.
“Tara, sekarang kamu sadar? Menjadi orang lain
itu gak enak. Gak nyaman. Kamu diciptakan seperti ini. Seperti ini kamu.
Kesendirian. Tapi, membuatmu menjadi kamu yang berbeda dengan orang lain. Kamu
nyaman dengan ini. Terimalah yang kamu anggap itu kekurangan sebagai
kelebihan,”katanya.
“Iya... Hiks. Aku janji, aku gak akan pernah
membenci kehidupanku dan Neta...,”kataku. Aku menatapnya masih dengan mata yang
basah.
“Aku ingin kehidupanku lagi...,”lanjutku. Ia
tersenyum dan mengangguk. Seketika menjadi gelap.
* * *
Aku membuka mata.
Itu mimpi....
Bunga tidur. Aku melihat jam di handphoneku.
Tertulis 05:13 a.m. Aku melihat matahari mulai muncul di ufuk timur. Mimpi itu sebentar
tapi sangat berharga bagiku. Mengajariku untuk menghargai kehidupan. Karena,
selama ini aku salah mengartikan arti hidup. Aku segera berdiri dan meraih
sandalku dan pergi menuju rumah. Saat sampai, aku melihat Davi yang duduk
dengan memeluk lutut untuk tempat kepalanya di teras. Sepertinya ia tertidur.
Sebegitu pentingkah aku untuknya? Aku juga melihat, lampu ruang tamu masih
menyala. Mereka menungguku. Karena, aku melihat ada beberapa kepala yang
bersender di bantalan kursi. Aku menangis terharu. Aku membuka pintu pagar
dengan pelan. Berjalan mengendap-endap dan duduk di samping Davi. Aku
menyenderkan kepalaku di bahu kirinya.
“Terimakasih...,”kataku sambil memejamkan
mataku. Merasakan angin pagi yang berhembus. Dingin. Namun hangat.
“Kak Tara...,”kata seseorang yang kuyakin Neta.
Neta dengan wajah kusut yang menahan kantuk sambil menggosok-gosok mata. Aku
melihatnya dan tersenyum. Aku berdiri dan berjalan menghampirinya. Aku
memeluknya.
“Maaf, Sayang... Kakak selalu merasa kamu
ngejahatin Kakak,”kataku. Tak ada jawaban. Aku terus memeluknya. Aku melihat
wajahnya. Ia kembali tertidur. Dia pasti tadi ia hanya bermimpi. Aku
menggendongnya dan membawanya ke kamar Mama yang ada di lantai bawah.
Membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Lalu, aku memberinya selimut.
Kasihan Neta. Matanya bengkak. Pasti ia menangis saat aku pergi. Ia merasa itu
salahnya. Padahal bukan. Tapi, aku senang. Dia menangis untukku. Aku kembali
mengambil selimut. Dan berjalan kembali melewati ruang tamu. Aku melihat para orang
tua tertidur. Aku tersenyum.
Aku kembali ke teras. Davi masih tertidur. Aku
duduk di sebelahnya dan menebarkan selimut di punggung kami. Cukup untuk
menahan hawa dingin pagi Bogor. Aku menyenderkan kembali kepalaku di bahu
kirinya. Ia terbangun dan terkejut melihat aku sudah ada di sampingnya.
“Aku ngantuk, Dav...,”kataku dengan mata
tertutup. Davi mungkin setengah sadar. Mendengar itu, ia hanya tersenyum,
memeluk pundakku, dan menyenderkan kepalanya di atas kepalaku. Kembali tidur
dalam keadaan lelahnya.
Tuhan....
Inikah jawabanMu atas doa ku?
Inilah kehidupanku. Bukan kehidupan mereka.
Bersama keluarga yang kusayangi. Biarkan, ini untukku. Biar aku tak memiliki
paras yang cantik, otak yang cemerlang, dikejar-kejar cowok, atau menonjol di
sekolah. Yang penting, aku memiliki mereka yang menyayangiku. Aku bahagia. Aku
bahagia memiliki Mama, Papa, dan Neta... Benar-benar bahagia. Juga Davi...
Kataku dalam hati dan kembali tenggelam dalam
tidurku.
* * *

0 komentar:
Posting Komentar
woy!!! kasih gak komen?! kasih gak?!!! Cepetan! Komen atau nyawa (?)